Jumat, 25 Agustus 2017

Keris Pusaka Tilam Upih Pajajaran Beras Wutah Gonjo Iras



DAPUR : Tilam Upih
PAMOR : Beras Wutah
TANGGUH : est.  Pajajaran, Bilah Keris Sudah Membatu
WARANGKA : Branggah Jogja

Pemesanan dan pembayaran bisa via Tokopedia
Atau Hubungi: 
Telp./W.A: 0816869621
BBM: D97B02D4
Desa Bakalan Kecamatan Kandeman Kabupaten Batang




DHAPUR TILAM UPIH
Banyak cerita tentang keris pusaka keluarga dengan dapur Tilam upih. Banyak juga yang meyakini bahwa pusaka (ampuh) yang berwujud keris memiliki bentuk-bentuk sederhana, seperi halnya Tilam Upih. Menurut cerita dahulu kala, salah satu wali-sanga, yaitu Kanjeng Sunan Kalijaga pernah menyarankan kepada pengikut-pengikut beliau, bahwa keris pusaka pertama yang harus dimiliki adalah keris dengan dapur Tilam Upih. Menurut beliau keris dengan dapur ini, bisa menjadi pengikut/teman yang setia disaat suka maupun duka, disaat prihatin dan disaat jaya.


Tilam Upih yang dalam terminologi Jawa berarti tikar yang terbuat dari anyaman daun untuk alas tidur, diistilahkan sebagai kondisi sedang tirakat/prihatin, masih tidur dengan alas yang keras, belum dengan alas yang empuk. Para orang tua jaman dahulu biasanya secara turun temurun memberikan anaknya yang menikah dengan keris dhapur tilam upih, artinya didoakan agar hidup rumah tangganya baik, mulya, berkecukupan atau sebuah bentuk simbolisasi harapan tentang hidup nyaman berkecukupan.


TANGGUH PAJAJARAN, Tanah Pasundan adalah tanah yang sangat subur, gemah ripah loh jinawi. Dengan kesuburan tanahnya, hampir dipastikan kerajaan-kerajaan yang pernah berdiri di tlatah tersebut mampu melakukan swasembada pangan sendiri. Tipikal masyarakat yang tinggal atau mempunyai daerah yang geografisnya subur, diberkahi banyak gunung, mata air dan sungai, berhawa sejuk hampir dipastikan masyarakatnya adalah mereka yang suka hidup damai.


Tanpa harus agresi ke daerah lain, secara normatif masyarakat ini tidak merasa khawatir akan kekurangan kebutuhan dasar; sandang, pangan dan papan, karena karena alam yang ada di sekitar sudah ‘maha’ menyediakan. Dengan latar belakang masyarakat agraris yang cinta damai, itulah keris keris pedalaman Barat (Pajajaran, Galuh, Pakuan) tercipta dengan tampilan ‘rasa’ yang khas. Kesederhanan tetapi tidak asal-asalan. Bilahnya sudah seperti batu, cenderung tipis, tapi memiliki keistimewaan. Teknik pattern-welding yang dipakai, lebih tampak istimewa karena ketipisan bilah yang tercipta. Bercampurnya besi, baja dan bahan pamor tetap terlihat kontras dalam bilah keris.


Keris Pasundan bukanlah tipe keris yang ‘sombong atau pamer’ (gebyar). Ungkapan kesederhanan dalam rasa estetis yang tinggi, jarang sekali kita temukan motif pamor keris Pasundan dengan teknik pamor miring, hampir sebagian besar menggunakan pola teknik pamor mlumah, sehingga terciptalah pamor dengan teknik dasar seperti ngulit semangka atau beras wutah yang terlihat matang. Tanah Pasundan juga terkenal sebagai gudangnya para “Bapak atau Ibu Empu di Nusantara”, sebut saja nama Ki Keleng, Ki Kuwung, Ki Loning, Ki Angga, Ki Pagelen, Ki Sikir, Empu Ki Siyung Wanara dan Ni Mbok Sombro. Tak heran dari sudut pandang pecinta Isoteri, keris Pasundan dipercaya memiliki perbawa adem ayem dan keberkahan, karena dibabar dengan ritual dan doa sebagai wujud syukur kepada bumi yang dianggap telah memberikan bermacam sumber kehidupan.


PAMOR BERAS WUTAH, Berarti “beras tumpah”, oleh kebanyakan penggemar keris dianggap memiliki tuah yang dapat membuat pemiliknya mudah mencari rejeki, berkelimpahan. Oleh sebagian ahli tanjeg dikatakan bahwa di dalam pamor ini tersembunyi tuah lain yang baik. Bagi lelaki Jawa yang telah menikah, pamor ini juga mengingatkan akan tanggung jawab lelaki sebagai kepala keluarga untuk bertanggungjawab menghidupi / menafkahi keluarganya, sebagaimana tercermin dari ritual “kacar-kucur” pengantin Jawa, dimana pihak lelaki “menumpahkan beras” ke tempat yang telah disediakan pihak perempuan. Arti simbolis ritual ini juga berarti bahwa rejeki yang didapat sang suami “tidak lari kemana-mana“ selain ke istri sendiri – yang sekaligus menjadi pengelolanya.